Sunday, September 29, 2013
SEJARAH DONOR DARAH
Donor darah belum dikenal di masa silam. Oleh karenanya para dokter masa silam dan orang-orang terdahulu tidak pernah menyebut-nyebut metode pengobatan dengan memasukkan darah ke saluran darah. Namun demikian manusia mengetahui bahwa kehilangan darah adalah sebuah peristiwa yang berpotensi fatal. Selain itu, manusiapun telah percaya bahwa darah mempunyai khasiat lain seperti membuat awet muda, menambah kekuatan, dll. Oleh sebab itu mandi darah di zaman Mesir atau minum darah di zaman Romawi merupakan upaya untuk mendapatkan khasiat darah tersebut.
Perkembangan selanjutnya, dilakukan upaya untuk memindahkan darah dari donor ke resipien melalui pembuluh darah. Tidak hanya manusia sebagai donor, hewanpun dicoba sebagai donor. Upaya memindahkan darah melalui pembuluh darah menimbulkan banyak korban. Sebuah gejala klinis yang sekarang disebut sebagai hemolisis akut, waktu itu telah diketahui dan digambarkan bahwa resipien menjadi pucat, timbul rasa nyeri di daerah punggung dan perut, serta urin yang menjadi berwarna hitam. Di tahun 1492, dilakukan transfusi kepada Pope Innocent VIII yang sedang sakit berat dengan donor 3 anak muda. Dalam peristiwa itu donor dan resipien menemui ajal. Dengan banyaknya yang tidak selamat, The Edict of Chatelet dikeluarkan pada tahun 1668 oleh Parlemen Perancis. Isinya sebuah pernyataan bahwa transfusi adalah tindakan yang berbahaya dan tidak boleh dilakukan kecuali dengan ijin khusus dari Fakultas Kedokteran di Paris. Sebagai akibat dari peraturan tersebut transfusi tidak pernah lagi dipraktekkan atau paling tidak sangat sedikit tulisan tentang transfusi. Tidak tanggung-tanggung, 150 tahun lamanya transfusi mengalami masa dorma.
Setelah sekian lama, semangat untuk melakukan lagi transfusi timbul dari seorang ahli kebidanan dari kandungan dari Inggris yang bernama James Blundell. Blundell merasa frustasi karena tidak mampu menolong para ibu yang meninggal akibat kehilangan darah saat persalinan. Di awal abad ke-19 Blundell kembali melakukan transfusi dari orang ke orang. Empat dari delapan pasien pertama dapat diselamatkan, tanpa diketahui mengapa hal tersebut terjadi.
Akhirnya, transfusi darah mulai berkembang pesat setelah Karl Landsteiner seorang ilmuwan dari Jerman pada tahun 1900 yang menemukan perbedaan antigenitas sel darah merah antar individu meskipun satu spesies. Landsteiner menemukan dua jenis antigen di permukaan sel darah merah manusia yaitu A dan B. Berdasarkan jenis antigen ini Landsteiner menggolongkan sel darah merah menjadi sel darah merah A dan B. Sel darah merah yang tidak mempunyai antigen A atau B digolongkan sebagai sel darah merah O. Didapatinya pula bahwa mereka yang mempunyai sel darah merah A, di dalam plasmanya terdapat antibodi terhadap antigen B atau anti-B. Sedangkan mereka yang mempunyai sel darah merah B, di dalam plasmanya tedapat anti-A. Mereka yang mempunyai golongan darah O tidak mempunyai anti-A maupun anti-B. Penemuan Landsteiner Iini membuahkan Hadiah Nobel baginya, dan sangat berguna untuk melakukan transfusi yang jauh lebih aman. Sebelum ditransfusikan, sel darah merah donor diperiksa terlebih dahulu golongan darahnya, demikian pula resipien. Metode pemeriksaan yang dilakukan oleh Landsteiner saat ini tetap dilakukan dengan istilah blood grouping dan cross matching. Penelitian Landsteiner diteruskan oleh muridnya (Decastello dan Sturli) yang akhirnya menemukan sel darah merah yang mempunyai antigen A dan antigen B di permukaannya. Sel darah merah ini kemudian digolongkan sebagai sel darah merah AB. Penggolangan darah ini yang dikenal sekarang dengan Sistem ABO sudah banyak membantu dalam proses tranfusi darah, namun masih banyak ditemukan kasus yang tidak berhasil. Pada akhirnya, Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940 menemukan antigen-Rh dalam darah manusia yang dikenalsekarang ini dengan sistem Rhesus. Penemuan ini dapat menjawab kegagalan yang dilakukan dalam transfusi darah selama ini.
Selain itu, penemuan itu belum sepenuhnya memecahkan masalah pada transfusi. Sampai dengan tahun 1914 manusia masih melakukan direct transfusion dari donor ke resipien karena belum tahu bagaimana caranya mencegah terjadinya pembekuan darah setelah darah disadap. Pada tahun 1915 Agote dan Lewisohn, secara terpisah, memperkenalkan bahwa sodium sitras dapat berfungsi sebagai antikoagulan. Pada tahun 1916 Rous dan Turner mempublikasikan studi tentang preservasi darah, kemudian studi ini diaplikasikan dalam Perang Dunia I oleh Oswald Robetson sehingga tidak perlu dilakukan direct transfusion.
Selain pencegahan pembekuan darah, biomaterial yang dipakai untuk menyimpan darah juga berpengaruh terhadap hasil dari transfusi. Semula darah disimpan dalam botol gelas, tetapi perkembangan ilmu menunjukkan bahwa gelas bukan biomaterial yang tepat untuk darah. Sejak tahun 1960-an darah disimpan dengan menggunakan plastik. Dengan demikian transfusi darah dilakukan melalui alat khusus yang dapat memindahkan darah seseorang kepada orang lain tanpa mengubah sedikit pun zat-zat darah tersebut dan darah itu belum terpengaruh sama sekali oleh udara; sehingga darah tetap sama dengan darah itu masih tetap sama sebagaimana dengan darah yang terdapat dalam tubuh donor.
Tentang pengelolaan transfusi, pada tahun 1937 seorang dokter dari Amerika bernama Bernard Fantus merintis bank darah di Rumah Sakit Cook County Hospital, Chicago. Fantus juga merintis komite transfusi yang bersifat multidisiplin untuk menentukan indikasi transfusi. Prakarsa Fantus segera diikuti oleh rumah sakit lainnya.
Berakhirnya Perang Dunia semula memberikan asumsi bahwa transfusi adalah tindakan kedokteran yang akan menurun aplikasinya. Hal tersebut tidak terjadi, karena ternyata ditemukan berbagai penyakit yang membutuhkan darah sebagai salah satu terapi, dan bersifat live-saving therapy. Transfusi tetap dibutuhkan namun di sisi lain mulai didapati bahwa penyakit ternyata dapat ditularkan melalui transfusi. Selain itu ditemukan berbagai antigen sel darah merah yang sangat berperanan dalam kompatibilitas transfusi sel darah merah, tidak hanya antigen A, B, dan O seperti di jaman Landsteiner. Kesemuanya memberikan wawasan bahwa transfusi ternyata tidaklah mudah. Berbagai tantangan dalam transfusi memicu berkembangnya konsep transfusi rasional dan aman. Bahkan akhirnya penemuan bahwa HIV dapat ditransmisikan melalui transfusi memicu berkembangnya sebuah cabang ilmu kedokteran yang bernama Transfusion Medicine (Kedokteran Transfusi) di Amerika pada tahun 1980. Dengan perkembangan ilmu ini, diharapkan transfusi menjadi lebih rasional, efektif, dan aman. Sebuah sejarah panjang sejak manusia mencoba mendapatkan kebaikan dari darah.
Monday, June 17, 2013
Golongan Darah O
An O type child was in distress. His teacher always warn him because he can not sit still for a long time in class, while at home, his parents who always got a note from the teacher got angry with him as well. Naturally, an O type child is very active, very energetic and has a high vitality, so a constant warning both from the teacher and the parents will not solve the problem, it will create another problem instead.
The basic question is how to understand our children's character so that we can cultivate the best of them?
Seorang anak bergolongan darah O stress sekali karena selalu dimarahi oleh gurunya, dianggap tidak bisa diam di kelas, di rumah, karena orang tuanya selalu diperingati oleh gurunya, orang tuanya balik marah kepada anaknya, padahal secara naturalnya, golongan darah O memang sangat aktif, enerjik, punya vitalitas yang tinggi, sehingga dengan omelan dari guru dan orang tua, tidak akan menyelesaikan permasalahan, malah menambah kepedihan hati anak.
Kapankah kita sebagai orang tua dan pengajar memahami karakter seorang anak?
Tuesday, June 4, 2013
Penghargaan Terbesar PMI untuk Pendonor Darah
12/13/2012
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menegaskan tidak ada instansi lain selain Palang Merah Indonesia yang memberikan penghargaan kepada 1400 an orang. Rencananya PMI dan pemerintah akan memberikan penghargaan Satyalancana kepada 1.402 pendonor darah sukarela yang telah mendonorkan darahnya 100 kali pada Jumat, 14 Desember 2012.
Pada konferensi pers mengenai Penganugerahan Penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial kepada 1.402 Donor Darah Sukarela (DDS), Kamis 13 Desember 2012 di Jakarta Convention Center (JCC), Jusuf Kalla mengatakan pemberian penghargaan ini merupakan sebuah upaya kemanusiaan yang besar.
"Ini adalah upaya besar yang PMI lakukan secara rutin dan yang melibatkan Kabupaten Kota di Indonesia," kata Jusuf Kalla.
Menurut ketua umum, minat masyarakat untuk donor darah meningkat dengan bertambahnya jumlah donor darah sukarela setiap tahun.
"Tahun lalu kita berikan penghargaan kepada sekitar 1.200 an orang. Tahun ini kita memberikan tidak kurang dari 1.400 orang. Kita semakin mendekati untuk mengumpulkan jumlah kantong darah untuk nasional yaitu 4.5 juta per tahun," jelas Ketua Umum PMI.
Jusuf Kalla mengucapkan terima kasih dan bangga dengan para donor darah sukarela.
"Berdonor 100 kali berarti minimal dia donor darah selama 25 tahun berturut-turut tanpa henti. Pantas jika negara memberikan penghargaan kepada mereka," ujar Jusuf Kalla.
Jawa Timur masih memegang jumlah DDS terbanyak yaitu 672 orang, disusul DKI Jakarta 377 orang, Jawa Tengah 138, Jawa Barat 107, DIY 18, Sulawesi Utara 17, Kalimantan Barat 16, Banten 15, Bali 12, Lampung, NTB dan Papua masing-masing 7 orang, Kalimantan Timur 5, dan Kepulauan Riau 4 orang.
Sementara pendonor darah 100 kali tertua berasal dari Jawa Timur dan Kalimantan Barat yaitu berusia 74 tahun. Dan pendonor darah 100 kali termuda datang dari Jawa Barat berusia 38 tahun.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi: Dr.dr. Yuyun SM Soedarmono, Direktur Unit Donor Darah Pusat (UDDP), Hp. 0811 843 718 atau dr. Robby Nur, Staf Humas Unit Donor Darah Pusat, Hp. 0813 2888 9810. Kontak Media: Anggun Permana Sidiq, Hp. 0856 97777 313. www.pmi.or.id E-mail: pmi@pmi.or.id twitter: @palangmerah
Monday, June 3, 2013
Jaminan Akses Kesehatan bagi Pendonor Darah Lebih dari 100 Kali
Metrotvnews.com, Jakarta: Pemprov DKI Jakarta memberikan jaminan akses kesehatan bagi para pendonor yang telah menyumbangkan darah lebih dari 100 kali. Para penerima satya lencana kebaktian sosial tersebut dipastikan tidak akan menemui kendala berobat gratis di rumah sakit yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DKI.
Asisten Kesehatan Masyarakat Pemprov DKI Jakarta, Mara Oloan Siregar mengatakan pemberian jaminan tersebut sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan. "Untuk pejuang pendonor darah ini, kita akan berikan jaminan pelayanan kesehatan. Kami akan berikan Kartu Jakarta Sehat sebanyak 300 kartu," ucap Mara di depan ratusan pendonor yang menerima penghargaan, Sabtu (16/1).
Sebanyak 377 pendonor mendapatkan penghargaan Satya Lencana. Mereka setidaknya telah mendonorkan darah lebih dari 100 kali selama lebih dari 20 tahun.
Mara bahkan memberikan nomor ponsel kepala UPT Jamkesda DKI, Yudhita sebagai nomor darurat. Mara mempersilakan para pendonor menghubungi langsung Kepala UPT Jamkesda DKI jika menemui kendala berobat gratis.
"Silakan SMS nama dan rumah sakitnya, pihak UPT Jamkesda DKI akan hubungi RS yg bersangkutan. Sebenarnya pihak RS sudah tahu peserta KJS berobat gratis tapi ada aja staf di bawah yang tidak mengetahui, kalau ada menemui masalah silakan telpon ke dr Yudhita," tegas Mara.
Mara menilai para pendonor tersebut layak diapresiasi karena telah konsisten memenuhi kebutuhan darah, terutama saat musim krisis darah, seperti bulan puasa, Natal, dan liburan panjang. "Karena bapak-bapak telah berjasa sebagai pendonor darah sukarela," tandasnya.
Salah satu pendonor, Ita Putri Pancaningtyas, 45 yang sudah 28 tahun mendonorkan darahnya mengaku senang dengan jaminan tersebut. "Bersyukur ternyata apa yang kami lakukan mendapatkan apresiasi," ungkap warga Ciledug, Tangerang tersebut.
Menurut karyawan swasta yang sudah mendonorkan darahnya sejak usia 17 tahun menjadi pendonor tidaklah sulit. Ita biasa menyempatkan mendatangi kantor PMI Pusat di Jalan Kramat Raya pagi hari sebelum berangkat kerja. Hanya dibutuhkan waktu 15-20 menit.
"Biasanya saya rutin setiap 75 hari sekali mendonorkan darah. Prosesnya gampang, tinggal isi forum, periksa HB darah, kalau terlalu tinggi atau rendah biasanya langsung ditolak, cuma 15 menit," jelasnya.
Sedangkan Ketua umum PMI Jakarta Rini Soetiyoso mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan untuk mengkatkan jumlah pendonor baru.
PMI, lanjut Rini, menggencarkan teknik menjemput bola baik di mal, kampus, maupun tempat strategis lainnya.
"Kadang masyarakat itu malas ke kantor PMI, makanya kta yang mendekat ke mal, ke perguruan tinggi. Kita jemput bola. Setiap PMI adakan acara, pasti ada donor darah," papar Rini.
Hasilnya menurut Rini cukup signifikan. Jumlah pendonor tahun 2012 naik 20% menjadi 330ribu pendonor dari jumlah tahun 2011 yang hanya 298ribu.
Penjaringan pendonor baru tersebut, lanjut Rini, penting mengingat anjloknya stok darah hingga 70% di bulan puasa, Natal dan libur tahun baru.
"Kita ingin jadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sosial. Karena sekaya apapun orang tak ada yang bisa dirikan pabrik darah. Darah hanya bisa dberikan dari manusia ke manusia. Dan kita berharap para penerima satya lencana ini dapat bantu sosialisasikan," tandasnya. (Vini Mariyane Rosya/Agt)
Subscribe to:
Posts (Atom)